PERAWATAN ANAK

Gambar

 

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Penyakit DHF (Dengue Haemoragic fever) “

Oleh :

Nama : Willia Sari

Nim : 11111639

Dosen Pembimbing : Ns. Siti Aisyah Nur, S.Kep

Prodi D-III Keperawatan (IIA)

Stikes Mercubaktijaya Padang

Tahun Ajaran  2012/2013

BAB I

PENDAHULUAN

1.1   Latar belakang

  • Penyakit Demam Berdarah atau Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) ialah

penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan

nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Kedua jenis nyamuk ini terdapat

hampir di seluruh pelosok Indonesia, kecuali di tempat-tempat ketinggian

lebih dari 1000 meter di atas permukaan air laut. Penyakit DBD sering salah

didiagnosis dengan penyakit lain seperti flu atau tipus. Hal ini disebabkan

karena infeksi virus dengue yang menyebabkan DBD bisa bersifat

asimtomatik atau tidak jelas gejalanya. Data di bagian anak RSCM

menunjukkan pasien DBD sering menunjukkan gejala batuk, pilek, muntah,

mual, maupun diare. Masalah bisa bertambah karena virus tersebut dapat

masuk bersamaan dengan infeksi penyakit lain seperti flu atau tipus. Oleh

karena itu diperlukan kejelian pemahaman tentang perjalanan penyakit infeksi

virus dengue, patofisiologi, dan ketajaman pengamatan klinis. Dengan

pemeriksaan klinis yang baik dan lengkap, diagnosis DBD serta pemeriksaan

penunjang (laboratorium) dapat membantu terutama bila gejala klinis kurang

memadai (Kristina, Isminah dll, 2004).

Penyakit demam berdarah yang berkelanjutan dapat menimbulkan

terjadinya Dengue Syoh Syndrome (DSS) bahkan kematian. Karena seringnya

terjadi perdarahan dan syok maka pada penyakit ini angka kematiannya cukup

tinggi. Oleh karena itu setiap penderita yang diduga menderita penyakit

demam berdarah dalam tingkat manapun harus segera dibawa ke dokter atau

rumah sakit, mengingat sewaktu-waktu dapat mengalami syok/kematian.

Penyebab demam berdarah menunjukkan demam yang lebih tinggi, satu

perdarahan (trombositopenia) dan hemokonsentrasi sejumlah kasus kecil bisa

menyebabkan sindrom shock dengue yang mempunyai tingkat kematian

tinggi.

Dalam memberikan asuhan keperawatan untuk mengatasi masalah

keperawatan yang muncul pada pasien dengan Dengue Hemorrhagic Fever

(DHF) perawat dapat memonitor tanda-tanda perdarahan, memonitor tandatanda syok hipovolemik, mampu melakukan rehidrasi, mampu menganalisa

hasil laboratorium: trombosit, hematokri dan mampu mengelola kasus Dengue

Hemorrhagic Fever (DHF) pada anak. Berdasarkan latar belakang diatas,

maka penulis tertarik untuk mengangkat masalah Asuhan keperawatan pada anak dengan Dengue Hemorrhagic Fever (DHF)

  • Penyakit DemamBerdarah atau Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) ialah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus (Kristina, isminah, leni wulandari 2010). Kasus penyakit ini pertama kali ditemukan di Manila, Filipina pada tahun 1953. kasus di Indonesia pertama kali dilaporkan terjadi di Surabaya dan Jakarta dengan jumlah kematian sebanyak 24 orang (Kristina, isminah, leni wulandari 2010).
    Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) merupakan penyebab utama kematian pada anak-anak di Asia, dan Dengue Shock Syndrome (DSS) yang parah menyebabkan kematian yang cukup signifikan pada anak-anak (Ngo Thi Nhan et al., 2001). Sampai saat ini DHF merupakan suatu permasalahan kesehatan pada masyarakat yang sangat signifikan dikebanyakan negara tropis Asia Tenggara dan wilayah Pasifik Barat. Penyakit ini termasuk dalam sepuluh penyebab perawatan di rumah sakit dan penyebab kematian pada anak-anak, yang tersebar sedikitnya di delapan Negara-negara tropis Asia (DepKes RI, 1990; Gubler, 1998). Angka morbiditas dan mortalitas DHF dari tahun ke tahun terus menunjukkan peningkatan dan terjadi di semua propinsi di Indonesia (Setiati et al., 2006). Pada tahun 2004 terjadi kenaikan kejadian DHF yang cukup signifikan dan terjadi pada 30 propinsi dari 32 propinsi di Indonesia (Ahmad, 2004). Penyakit Demam Berdarah disebabkan oleh Virus Dengue dengan tipe DEN 1, DEN 2, DEN 3, dan DEN 4. Keempat tipe virus tersebut telah ditemukan diberbagai daerah di Indonesia antara lain Jakarta dan Yogyakarta (Kristina et al.,2004). Faktor yang mempengaruhi penyebaran DBD adalah pertumbuhan penduduk, urbanisasi yang tidak terkendali, tidak adanya control vektor nyamuk, dan peningkatan sarana transportasi (DepKes RI, 1990) (nanang 2009).
    Dinas kesehatan kabupaten Pekalongan 2009 mengatakan sebanyak 650 kasus demam berdarah dengue selama 2009 terjadi di Kabupaten pekalongan, dan tujuh korban diantaranya meninggal dunia. Kasus DBD pada 2009 ini cenderung meningkat dibandingkan pada 2008 yang hanya 403 kasus dengan korban 10 meninggal dunia. Kenaikan jumlah kasus DBD memang telah mencapai 50% lebih jika dibandingkan pada tahun sebelumnya. Namun jika dihitung dari jumlah korban meninggal dunia terjadi penurunan, sejumlah daerah yang menjadi endemis DBD, antara lain di daerah Bojong, Kedungwuni, Karanganyar, Kesesi, Wonopringgo, dan Buaran (Kutnadi, 2009)

1.2 Tujuan

a.       Tujuan Umum

Tujuan umum mahasiswa mampu melaporkan asuhan keperawatan

Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) pada An. S secara akurat dan tepat

b. .      Tujuan Umum

a. Mahasiswa mampu melaporkan konsep dasar tentang penyakit DHF

b. Mahasiswa mampu menguraikan pengkajian kasus

c. Mahasiswa mampu menjabarkan diagnosa keperawatan

d. Mahasiswa mampu mendeskripsikan intervensi keperawatan

e. Mahasiswa mampu menjelaskan implementasi keperawatan

f. Mahasiswa mampu memaparkan tindakan keperawatan yang sudah

diberikan

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

2.1    Definisi

  • DHF (Dengue Haemoragic fever) adalah penyakit yang disebabkan oleh virusdengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk ke dalam tubuhpenderita melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti (betina). (ChristantieEffendy, 1995)
  • Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang terdapat pada anak danorang dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan nyeri sendi yangdisertai ruam atau tanpa ruam. DHF sejenis virus yang tergolong arbo virus danmasuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty (betina)(Seoparman, 1990)..
  • DHF adalah demam khusus yang dibawa oleh aedes aegypty dan beberapanyamuk lain yang menyebabkan terjadinya demam. Biasanya dengan cepatmenyebar secara efidemik. (Sir, Patrick manson, 2001).

2.2 Etiologi

Virus dengue tergolong dalam famili/suku/grup flaviviridae dan dikenal ada 4serotipe. Dengue 1 dan 2 ditemukan di Irian ketika berlangsungnya perang duniake-III, sedangkan dengue 3 dan 4 ditemukan pada saat wabah di Filipina tahun1953 – 1954. Virus dengue berbentuk batang, bersifat termolabil, sensitif terhadapinaktivasi oleh dietileter dan natrium dioksikolat, stabil pada suhu 700C. Keempatserotif tersebut telah di temukan pula di Indonesia dengan serotif ke 3 merupakanserotif yang paling banyak. Dengue merupakan serotype yang paling banyak beredar.

2.3 Manifestasi klinis

Gambaran klinis yang timbul bervariasi berdasarkan derajat DHF dengan masainkubasi anatara 13 – 15 hari, tetapi rata-rata 5 – 8 hari. Gejala klinik timbul secaramendadak berupa suhu tinggi, nyeri pada otot dan tulang, mual, kadang-kadangmuntah dan batuk ringan. Sakit kepala dapat menyeluruh atau berpusat pada daerahsupra orbital dan retroorbital. Nyeri di bagian otot terutama dirasakan bila ototperut ditekan. Sekitar mata mungkin ditemukan pembengkakan, lakrimasi,fotofobia, otot-otot sekitar mata terasa pegal.

Eksantem yang klasik ditemukan dalam 2 fase, mula-mula pada awal demam (6 – 12 jam sebelum suhu naik pertama kali), terlihat jelas di muka dan dada yangberlangsung selama beberapa jam dan biasanya tidak diperhatikan oleh pasien.Ruam berikutnya mulai antara hari 3  –  6, mula – mula berbentuk makula besaryang kemudian bersatu mencuat kembali, serta kemudian timbul bercak-bercak petekia. Pada dasarnya hal ini terlihat pada lengan dan kaki, kemudian menjalar keseluruh tubuh. Pada saat suhu turun ke normal, ruam ini berkurang dan cepatmenghilang, bekas bekasnya kadang terasa gatal. Nadi pasien mula-mula cepat danmenjadi normal atau lebih lambat pada hari ke-4 dan ke-5. Bradikardi dapatmenetap untuk beberapa hari dalam masa penyembuhan. Gejala perdarahan mulaipada hari ke-3 atau ke-5 berupa petekia, purpura, ekimosis, hematemesis,epistaksis. Juga kadang terjadi syok yang biasanya dijumpai pada saat demam telahmenurun antara hari ke-3 dan ke-7 dengan tanda : anak menjadi makin lemah,ujung jari, telinga, hidung teraba dingin dan lembab, denyut nadi terasa cepat, kecildan tekanan darah menurun dengan tekanan sistolik 80 mmHg atau kurang.Ada pendapat juga yang mengatakan :

1.Demam tinggi selama 5 – 7 hari.

2.Mual, muntah, tidak ada nafsu makan, diare, konstipasi.

3.Perdarahan terutama perdarahan bawah kulit, ptechie, echymosis,hematoma.

4.Epistaksis, hematemisis, melena, hematuri.

5.Nyeri otot, tulang sendi, abdoment, dan ulu hati.

6.Sakit kepala.

7.Pembengkakan sekitar mata.

8.Pembesaran hati, limpa, dan kelenjar getah bening.

9.Tanda-tanda renjatan (sianosis, kulit lembab dan dingin, tekanan darahmenurun, gelisah, capillary refill lebih dari dua detik, nadi cepat danlemah).

2.4 Tanda dan gejala

DHF diklasifikasikan berdasarkan derajat beratnya penyakit, secara klinis dibagimenjadi 4 derajat (Menurut WHO, 1986) :

1.Derajat IDemam disertai gejala klinis lain, tanpa perdarahan spontan, uji tourniquet ,trombositopenia dan hemokonsentrasi.

2.Derajat IIDerajat I dan disertai pula perdarahan spontan pada kulit atau tempat la.

3.Derajat IIIDitemukan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan daerahrendah (hipotensi), gelisah, cyanosis sekitar mulut, hidung dan jari (tanda-tanda dini renjatan).

4.Derajat IVRenjatan berat (DSS) dengan nadi tak teraba dan tekanan darah tak dapatdiukur.

 

2.5 patofisiologi

Fenomena patologis yang utama pada penderita DHF adalah meningkatnyapermeabilitas dinding kapiler yang mengakibatkan terjadinya perembesan plasmake ruang ekstra seluler. Hal pertama yang terjadi stelah virus masuk ke dalamtubuh adalah viremia yang mengakibatkan penderita mengalami demam, sakitkepala, mual, nyeri otot, pegal-pegal diseluruh tubuh, ruam atau bintik-bintik merah pada kulit (petekie), hyperemia tenggorokan dan hal lain yang mungkinterjadi seperti pembesaran kelenjar getah bening, pembesaran hati (Hepatomegali)dan pembesaran limpa (Splenomegali). Peningkatan permeabilitas dinding kapilermengakibatkan berkurangnya volume plasma, terjadi hipotensi, hemokonsentrasi,dan hipoproteinemia serta efusi dan renjatan (syok). Hemokonsentrasi(peningkatan hematokrit > 20 %) menunjukkan atau menggambarkan adanyakebocoran (perembesan) plasma sehingga nilai hematokrit menjadi penting untuk patokan pemberian cairan intravena.Adanya kebocoran plasma ke daerah ekstra vaskuler dibuktikan denganditemukannya cairan yang tertimbun dalam rongga serosa yaitu ronggaperitoneum, pleura, dan pericard yang pada otopsi ternyata melebihi cairan yangdiberikan melalui infus. Setelah pemberian cairan intravena, peningkatan jumlahtrombosit menunjukkan kebocoran plasma telah teratasi, sehingga pemberiancairan intravena harus dikurangi kecepatan dan jumlahnya untuk mencegahterjadinya edema paru dan gagal jantung, sebaliknya jika tidak mendapatkan cairan yang cukup, penderita akan mengalami kekurangan cairan yang dapatmengakibatkan kondisi yang buruk bahkan bisa mengalami renjatan. Jika renjatanatau hipovolemik berlangsung lama akan timbul anoksia jaringan, metabolik asidosis dan kematian apabila tidak segera diatasi dengan baik. Gangguanhemostasis pada DHF menyangkut 3 faktor yaitu : perubahan vaskuler,trombositopenia dan gangguan koagulasi. Pada otopsi penderita DHF, ditemukantanda-tanda perdarahan hampir di seluruh tubuh, seperti di kulit, paru, saluranpencernaan dan jaringan adrenal

 

2.6 Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan penunjang

a.             Darah

1)             Trombosit menurun.

2)             HB meningkat lebih 20 %.

3)             HT meningkat lebih 20 %.

4)             Leukosit menurun pada hari ke 2 dan ke 3.

5)             Protein darah rendah.

6)             Ureum PH bisa meningkat.

7)             NA dan CL rendah.

b.             Serology : HI (hemaglutination inhibition test).

1)             Rontgen thorax : Efusi pleura.

2)             Uji test tourniket (+)

 

2.7 Penatalaksanaan    

 1.Penatalaksanaan penderita dengan DHF adalah sebagai berikut :

a.Tirah baring atau istirahat baring.

b.Diet makan lunak

.c.Minum banyak (2 – 2,5 liter/24 jam) dapat berupa : susu, teh manis, sirupdan beri penderita sedikit oralit, pemberian cairan merupakan hal yangpaling penting bagi penderita DHF.

d.Pemberian cairan intravena (biasanya ringer laktat, NaCl Faali) merupakancairan yang paling sering digunakan.

e.Monitor tanda-tanda vital tiap 3 jam (suhu, nadi, tensi, pernafasan) jikakondisi pasien memburuk, observasi ketat tiap jam.

f.Periksa Hb, Ht dan trombosit setiap hari.

g.Pemberian obat antipiretik sebaiknya dari golongan asetaminopen.

h.Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut.

i.Pemberian antibiotik bila terdapat kekuatiran infeksi sekunder. 

j.Monitor tanda-tanda dan renjatan meliputi keadaan umum, perubahantanda-tanda vital, hasil pemeriksaan laboratorium yang memburuk.

k.Bila timbul kejang dapat diberikan Diazepam.Pada kasus dengan renjatan pasien dirawat di perawatan intensif dan segera dipasang infus sebagai pengganti cairan yang hilang dan bilatidak tampak perbaikan diberikan plasma atau plasma ekspander ataudekstran sebanyak 20 – 30 ml/kg BB.Pemberian cairan intravena baik plasma maupun elektrolitdipertahankan 12 – 48 jam setelah renjatan teratasi. Apabila renjatan telahteratasi nadi sudah teraba jelas, amplitudo nadi cukup besar, tekanansistolik 20 mmHg, kecepatan plasma biasanya dikurangi menjadi 10 ml/kgBB/jam.Transfusi darah diberikan pada pasien dengan perdarahan gastrointestinalyang hebat. Indikasi pemberian transfusi pada penderita DHF yaitu jikaada perdarahan yang jelas secara klinis dan abdomen yang makin tegangdengan penurunan Hb yang mencolok.Pada DBD tanpa renjatan hanya diberi banyak minum yaitu 1½-2liter dalam 24 jam. Cara pemberian sedikit demi sedikit dengan melibatkanorang tua. Infus diberikan pada pasien DBD tanpa renjatan apabila :

1)Pasien terus menerus muntah, tidak dapat diberikan minumsehingga mengancam terjadinya dehidrasi.

2)Hematokrit yang cenderung mengikat

2.8 Pencegahan / perawatan dirumah

  • Prinsip yang tepat dalam pencegahan DHF ialah sebagai berikut :

1)Memanfaatkan perubahan keadaan nyamuk akibat pengaruh alamiahdengan melaksanakan pemberantasan vektor pada saat sedikit terdapatnyakasus DHF.

2)Memutuskan lingkaran penularan dengan menahan kepadatan vektor padatingkat sangat rendah untuk memberikan kesempatan penderita viremiasembuh secara spontan.

3)Mengusahakan pemberantasan vektor di pusat daerah penyebaran yaitu disekolah, rumah sakit termasuk pula daerah penyangga sekitarnya.

4)Mengusahakan pemberantasan vektor di semua daerah berpotensipenularan tinggi.Ada 2 macam pemberantasan vektor antara lain :

1.Menggunakan insektisida.Yang lazim digunakan dalam program pemberantasan demam berdarahdengue adalah malathion untuk membunuh nyamuk dewasa dantemephos (abate) untuk membunuh jentik (larvasida). Carapenggunaan malathion ialah dengan pengasapan atau pengabutan. Carapenggunaan temephos (abate) ialah dengan pasir abate ke dalamsarang-sarang nyamuk aedes yaitu bejana tempat penampungan airbersih, dosis yang digunakan ialah 1 ppm atau 1 gram abate SG 1 %per 10 liter air.

2.Tanpa insektisida

Caranya adalah :1.Menguras bak mandi, tempayan dan tempat penampungan airminimal 1 x seminggu (perkembangan telur nyamuk lamanya 7 – 10 hari).

2.Menutup tempat penampungan air rapat-rapat.

3.Membersihkan halaman rumah dari kaleng bekas, botol pecah danbenda lain yang memungkinkan nyamuk bersarang

Pencegahan umum dan program pemberantasan dari pemerintah. Pencegahan umum dan program dalam memberantas penyakit demam berdarah yang dilakukan oleh pemerintah telah mengalami perbaikan selama hampir 36 tahun. Dekade pertama adalah dengan cara penyemprotan dengan menggunakan alat potabel dan ultra low volume (ULV). Dan dekade kedua dilakuka dengan penyemprotan yang ditambah dengan larvaside atau yang dikenal dengan abate. Secara umum pencegahan dilakukan dengan: 1. .Penyemprotan atau vagging 2. Pemberian bubuk abate pada bak penampungan air 3. PSM (1993) diikuti pembentukan kelompok kerja (pokja) DBD yang merupakan koordinasi pemberantasan DBD dalam wadah LKMD 4. Pemerintah juga membentuk forum kerjasama linta sektoraldi tiap tingkat administrasi pemerintah (kecamatan, kabupaten, propinsi, dan pusat) yang disebut dengan kelompok kerja oprasional 5. Gunakan pemberantasan sarang nyamuk (GPSN). Pertama kali tanggal 14 april 1998. gerakan tersebut meliputi 3M, yaitu:

 Menguras tempat-tempat penampungan air secara teratur sedikitnya seminggu sekali / menaburkan bubuk abate kedalamnya

 Menutup rapat-rapat tempat penampungan air

 Mengukur atau menyingkirkan barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan

PROGNOSIS

Kematian dijumpai pada waktu ada pendarahan yang berat, syock yang tidak teratasi, efusi pleura dan asites yang berat dan kejang. Kematian dapat juga disebabkan oleh sepsis karena tindakan dan lingkungan bangsal rumah sakit yang kurang bersih. Kemudian terjadi kasus yang berat yaitu waktu muncul komplikasi pada sistem saraf, kardiovaskuler, pernafasan, darah dan organ lain.

2.9 Komplikasi 

 

Adapun komplikasi dari penyakit demam berdarah diantaranya :

a.Perdarahan luas.

b.Shock atau renjatan.

c.Effuse pleura

d.Penurunan kesadaran

 

WOC DHF

BAB III

ASKEP TEORITIS

3.1.   Pengkajian

A. PENGKAJIAN

1. Identitas pasien

2. Keluhan utama Alasan/ keluhan yang menonjol pada pasien DHF untuk dating ke RS adalah panas tinggi dan anak lemah

3. Riwayat penyakit sekarang Didapatkan adanya keluhan panas mendadak yang disertai menggigil dan saat-saat demam kesadaran kompos mentis. Turunnya panas terjadi antara hari ke 3 dan ke 7 dan anak semakin lemah. Kadang-kadang disertai keluhan batuk, pilek, mual, nyeri telan, muntah anoreksia, nyeri otot, dan persendian.

 4. Riwayat penyakit yang pernah diderita

5. Riwayat Imunisasi

6. Riwayat gizi

7. Kondisi lingkungan

8. Pola kebiasaan

9. Pemeriksaan fisik meliputi: inspeksi, palposi, aukskultasi dan perkusi dari ujung rambut sampai ujung kaki berdasarkan tingkatan DHF

10. Pemeriksaan system otot

 11. Psikosial: cemas terhadap kondisi yang sekarang.

12. Pemeriksaan fisik lainnya

1. Adanya petekia pada kulit menurun dan muncul keringat dingin dan lembab

2. Kuku sianosis

3. Kepada dan leher Kepala terasa nyeri, muka tampak kemerahan karena demam, mata anemis, hidung kadang mengalami pendarahan (epitaksis) pada grade II,III,IV. Pada mulut didapatkan bahwa mukosa mulut kering, terjadi perdarahan gusi dan nyeri telan. Tenggorokan mengalami hyperkimia pharing dan terjadi pendarahan telinga (pada grade II,III,IV)

 4. Dada Bentuk simetris dan kadang-kadang terasa sesak. Pada foto thorax terhadap adanya cairan yang tertimbun pada paru sebelah kanan (efusi pleura)

5. Abdomen Mengalami nyeri tekan, perbesaran hati (hepatomegali) dan asites

6. Ektremitas, akral dingin serta terjadi nyeri otot, sendi serta tulang.

3.2  Diagnosa keperawatan

1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif (mual, muntah)

2. Hyperthermia berhubungan dengan penyakit

3. Nyeri akut berhubungan dengan Agen Indera Biologi

Beberapa diagnosa keperawatan yang ditemukan pada pasien DHF menurut ChristianteEffendy, 1995 (Harnawati, 2008) yaitu :a. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses penyakit (viremia). b. Nyeri berhubungan dengan proses patologis penyakit.c. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual,muntah, anoreksia.d. Kurangnya volume cairan tubuh berhubungan dengan peningkatan permeabilitas dinding plasma.e. Gangguan aktivitas sehari-hari berhubungan dengan kondisi tubuh yang lemah.f. Resiko terjadi syok hypovolemik berhubungan dengan kurangnya volume cairan tubuh.g. Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif (pemasangan infus)

.                             Resiko terjadi perdarahan lebih lanjut berhubungan dengan trombositopenia.i. Kecemasan berhubungan dengan kondisi pasien yang memburuk dan perdarahan yangdialami pasien.

3.3 Intervensi

1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif (mual, muntah) NOC :

– mengontrol pemasukan dan pengeluaran cairan

– Tidak ada tanda-tanda dehidrasi

– Mengontrol berat badan

 – Mampu mengidentifikasi kbutuhan nutrisi NIC :

– monitor keadaan umum pasien

– Observasi tanda-tanda vital

– Perhatikan keluhan pasien

– Kolaborasi pemasangan infuse dan terapi-terapi cairan intravena

– Monitor input dan output cairan

– Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori yang dibutuhkan pasien.

2. Hyperthermia berhubungan dengan penyakit NOC :

– Suhu tubuh dalam rentang normal

– Nadi dan RR dam rentang normal

– Tidak ada perubahan warna kulit NIC :

– observasi tanda-tanda vital

– Berikan penjelasan kedada pasien / keluarga untuk mengatasi demam

– Jelaskan pentingnya tiras baring

– Anjurkan pasien untuk banyak minum

– Catat asupan dan keluaran cairan

– Kolaborasi pemberian cairan intravena

– Kolaborasi pemberian obat

3. Nyeri akut berhubungan dengan Agen Indera Biologi NOC :

– Kontrol nyeri

– Klien mengatakan nyeri berkurang

– Klien dapat mengekspresikan nyeri secara verbal NIC :

–mengkaji tingkat nyeri

– Berikan posisi yang nyaman

– Berikan suasana yang gembira

– Berikan teknik nonfarmakologi

– Kolaborasi pemberian analgetik

– Kaji lokasi nyeri

Perencanaan keperawatan disusun berdasarkan diagnosa yang ditemukan dan merencanakanrencana tindakan berdasarkan kebutuhan pasien.

a. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses penyakit (viremia).

Tujuan :1. Suhu tubuh normal (36 – 370C).

2. Pasien bebas dari demam.

Intervensi :1. Kaji saat timbulnya demam.

Rasional : untuk mengidentifikasi pola demam pasien.

2. Observasi tanda vital (suhu, nadi, tensi, pernafasan) setiap 3 jam.

Rasional : tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien.

3. 2,5 liter/24 jam.±7)Anjurkan pasien untuk banyak minum

Rasional : Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak.

4. Berikan kompres hangat.

Rasional : Dengan vasodilatasi dapat meningkatkan penguapan yang mempercepat penurunansuhu tubuh.

5. Anjurkan untuk tidak memakai selimut dan pakaian yang tebal.

Rasional : pakaian tipis membantu mengurangi penguapan tubuh.

6. Berikan terapi cairan intravena dan obat-obatan sesuai program dokter.

Rasional : pemberian cairan sangat penting bagi pasien dengan suhu tinggi. 

b. Nyeri berhubungan dengan proses patologis penyakit.

Tujuan :1. Rasa nyaman pasien terpenuhi.

2. Nyeri berkurang atau hilang.

Intervensi :1. Kaji tingkat nyeri yang dialami pasien

Rasional : untuk mengetahui berapa berat nyeri yang dialami pasien

2.. Berikan posisi yang nyaman, usahakan situasi ruangan yang tenang.

Rasional : Untuk mengurangi rasa nyeri

3. Alihkan perhatian pasien dari rasa nyeri.

Rasional : Dengan melakukan aktivitas lain pasien dapat melupakan perhatiannya terhadapnyeri yang dialami.

4. Berikan obat-obat analgetik 

Rasional : Analgetik dapat menekan atau mengurangi nyeri pasien.

c. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi, kurang dari kebutuhan berhubungan denganmual, muntah, anoreksia.

Tujuan :1. Kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi, pasien mampu menghabiskan makanan sesuai dengan posisi yang diberikan /dibutuhkan.

Intervensi :1. Kaji keluhan mual, sakit menelan, dan muntah yang dialami pasien.

Rasional : Untuk menetapkan cara mengatasinya.

2. Kaji cara / bagaimana makanan dihidangkan.

Rasional : Cara menghidangkan makanan dapat mempengaruhi nafsu makan pasien

.3. Berikan makanan yang mudah ditelan seperti bubur.

Rasional : Membantu mengurangi kelelahan pasien dan meningkatkan asupan makanan .

4. Berikan makanan dalam porsi kecil dan frekuensi sering.

Rasional : Untuk menghindari mual.

5. Catat jumlah / porsi makanan yang dihabiskan oleh pasien setiap hari.

Rasional : Untuk mengetahui pemenuhan kebutuhan nutrisi

6. Berikan obat-obatan antiemetik sesuai program dokter.

Rasional : Antiemetik membantu pasien mengurangi rasa mual dan muntah dan diharapkanintake nutrisi pasien meningkat.

7. Ukur berat badan pasien setiap minggu.

Rasional : Untuk mengetahui status gizi pasien

d. Kurangnya volume cairan tubuh berhubungan dengan peningkatan permeabilitas dinding plasma.

Tujuan :1. Volume cairan terpenuhi.

Intervensi :1. Kaji keadaan umum pasien (lemah, pucat, takikardi) serta tanda-tanda vital. Rasional : Menetapkan data dasar pasien untuk mengetahui penyimpangan dari keadaannormalnya.

2. Observasi tanda-tanda syock.

Rasional : Agar dapat segera dilakukan tindakan untuk menangani syok.

3. Berikan cairan intravena sesuai program dokter 

Rasional : Pemberian cairan IV sangat penting bagi pasien yang mengalami kekurangancairan tubuh karena cairan tubuh karena cairan langsung masuk ke dalam pembuluh darah.

4. Anjurkan pasien untuk banyak minum.

Rasional : Asupan cairan sangat diperlukan untuk menambah volume cairan tubuh.

5. Catat intake dan output.

Rasional : Untuk mengetahui keseimbangan cairan.

e. Gangguan aktivitas sehari-hari berhubungan dengan kondisi tubuh yang lemah.

Tujuan :1. Pasien mampu mandiri setelah bebas demam.

2. Kebutuhan aktivitas sehari-hari terpenuhi

Intervensi :1. Kaji keluhan pasien.

Rasional : Untuk mengidentifikasi masalah-masalah pasien.

2. Kaji hal-hal yang mampu atau yang tidak mampu dilakukan oleh pasien.

Rasional : Untuk mengetahui tingkat ketergantungan pasien dalam memenuhi kebutuhannya.

3. Bantu pasien untuk memenuhi kebutuhan aktivitasnya sehari-hari sesuai tingkatketerbatasan pasien.

Rasional : Pemberian bantuan sangat diperlukan oleh pasien pada saat kondisinya lemah dan perawat mempunyai tanggung jawab dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari pasien tanpamengalami ketergantungan pada perawat.

4. Letakkan barang-barang di tempat yang mudah terjangkau oleh pasien.

Rasional : Akan membantu pasien untuk memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa bantuanorang lain.

f. Resiko terjadinya syok hypovolemik berhubungan dengan kurangnya volume cairan tubuh

Tujuan :1. Tidak terjadi syok hipovolemik.

2. Tanda-tanda vital dalam batas normal.

3. Keadaan umum baik.

Intervensi :1. Monitor keadaan umum pasien

Rasional : memantau kondisi pasien selama masa perawatan terutama pada saat terjadi perdarahan sehingga segera diketahui tanda syok dan dapat segera ditangani.

2. Observasi tanda-tanda vital tiap 2 sampai 3 jam.

Rasional : tanda vital normal menandakan keadaan umum baik.

3. Monitor tanda perdarahan.

Rasional : Perdarahan cepat diketahui dan dapat diatasi sehingga pasien tidak sampai syok hipovolemik.

4. Chek haemoglobin, hematokrit, trombosit

Rasional : Untuk mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah yang dialami pasien sebagaiacuan melakukan tindakan lebih lanjut.

5. Berikan transfusi sesuai program dokter.

Rasional : Untuk menggantikan volume darah serta komponen darah yang hilang.

6. Lapor dokter bila tampak syok hipovolemik.

Rasional : Untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut sesegera mungkin.

g. Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif (infus).

Tujuan :1. Tidak terjadi infeksi pada pasien.

Intervensi :1. Lakukan teknik aseptik saat melakukan tindakan pemasangan infus.

Rasional : Tindakan aseptik merupakan tindakan preventif terhadap kemungkinan terjadiinfeksi.

2. Observasi tanda-tanda vital.

Rasional : Menetapkan data dasar pasien, terjadi peradangan dapat diketahui dari penyimpangan nilai tanda vital.

3. Observasi daerah pemasangan infus.

Rasional : Mengetahui tanda infeksi pada pemasangan infus.

4. Segera cabut infus bila tampak adanya pembengkakan atau plebitis.

Rasional : Untuk menghindari kondisi yang lebih buruk atau penyulit lebih lanjut.

h. Resiko terjadinya perdarahan lebih lanjut berhubungan dengan trombositopenia.

Tujuan :1. Tidak terjadi tanda-tanda perdarahan lebih lanjut.

2. Jumlah

tr ntervensi :1. Monitor tanda penurunan trombosit yang disertai gejala klinis.

Rasional : Penurunan trombosit merupakan tanda kebocoran pembuluh darah.

2. Anjurkan pasien untuk banyak istirahat

Rasional : Aktivitas pasien yang tidak terkontrol dapat menyebabkan perdarahan.

3. Beri penjelasan untuk segera melapor bila ada tanda perdarahan lebih lanjut.

Rasional : Membantu pasien mendapatkan penanganan sedini mungkin.

4. Jelaskan obat yang diberikan dan manfaatnya.

Rasional : Memotivasi pasien untuk mau minum obat sesuai dosis yang diberikan. 

b. Kecemasan berhubungan dengan kondisi pasien yang memburuk dan perdarahan yangdialami pasien.

Tujuan :1. Kecemasan berkurang.

Intervensi :1. Kaji rasa cemas yang dialami pasien.

Rasional : Menetapkan tingkat kecemasan yang dialami pasien.

2. Jalin hubungan saling percaya dengan pasien.

Rasional : Pasien bersifat terbuka dengan perawat.

3. Tunjukkan sifat empati

Rasional : Sikap empati akan membuat pasien merasa diperhatikan dengan baik.

4. Beri kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan perasaannya

Rasional : Meringankan beban pikiran pasien.

5. Gunakan komunikasi terapeutik 

Rasional : Agar segala sesuatu yang disampaikan diajarkan pada pasien memberikan hasilyang efektif.ombosit meningkat.

3.4  Implementasi Keperawatan

Pelaksanaan tindakan keperawatan pada klien anak dengan DHF disesuaikan denganintervensi yang telah direncanakan.

3.5 Evaluasi Keperawatan

Hasil asuhan keperawatan pada klien anak dengan DHF sesuai dengan tujuan yang telahditetapkan. Evaluasi ini didasarkan pada hasil yang diharapkan atau perubahan yang terjadi pada pasien.Adapun sasaran evaluasi pada pasien demam berdarah dengue sebagai berikut :

1. Suhu tubuh pasien normal (36- 370C), pasien bebas dari demam.

2. Pasien akan mengungkapkan rasa nyeri berkurang.

3. Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi, pasien mampu menghabiskan makanan sesuai dengan porsi yang diberikan atau dibutuhkan.

4. Keseimbangan cairan akan tetap terjaga dan kebutuhan cairan pada pasien terpenuhi.

5. Aktivitas sehari-hari pasien dapat terpenuhi.

6. Pasien akan mempertahankan sehingga tidak terjadi syok hypovolemik dengan tanda vitaldalam batas normal.

7. Infeksi tidak terjadi.

8. Tidak terjadi perdarahan lebih lanjut.

9. Kecemasan pasien akan berkurang dan mendengarkan penjelasan dari perawat tentang proses penyakitnya

 

 

 

 

BAB IV

PENUTUP

4.1  Kesimpulan

DHF adalah infeksi akut yang disebabkan oleh arbavirus (arthropodborn Virus) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes (aedes albopictus dan aedes aegypti). Manifestasi dari DHF:

1. Demam yang tinggi mendadak yang berlangsung slama 2-7 hari

2. Pendarahan trauma pada kulit

3. Hepatomegali

4. Anoreksia/ muntah-muntah

5. Nyeri perut, nyeri pada otot dan tulang

6. Sakit kepala

7. Nadi cepat dan lemah (< 20 mmHg)

8. Kulit dingin

9. Anak gelisah

10. Lidah kotor dan susah

BAB Diagnosa

1. Kekurangan volume cairan berbanding kehilangan volume cairan aktif (mual, muntah)

2. Hyperthermia berbanding penyakit

3. Nyeri akut berbanding Agen Indera Biologi

Dengue Hemorragic Fever (DHF) disebabkan oleh beberapa virus yang dibawa oleharthopoda. Penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitannyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus.Pemberian asuhan keperawatan yang sesuai dengan kebutuhan pasien akan sangat membantu proses penyembuhan dan mengurangi derajat kecemasan pada keluarga. Dengan melakukan pengkajian, maka akan diperoleh data yang akan menunjang masalah pasien. Perumusandiagnosis yang tepat akan membantu dalam merumuskan perencanaan keperawatan. Dalammenentukan dan menyusun intervensi keperawatan, harus didasarkan pada kebutuhan pasienyang sangat mendesak. Implementasi keperawatan harus sesuai dengan rencana intervensiyang telah ditetapkan. Evaluasi keperawatan dilakukan untuk mengetahui tingkatkeberhasilan asuhan keperawatan yang diberikan.

4.2  Saran

Dengan Makalah ini semoga para pembaca dapat mengambil manfaat dari pengetahuan tentang penyakit DHF. Kita sebagai tenaga kesehatan harus mampu dan memahami konsep dan segala sesuatu dan bagaimana kita merawat dan mengobati pasien dengan penderita DHF. Selain itu kita harus mencegah agar penyakit DHF tidak menyebar atau menjangkit kita dan masyarakat sekitar dengan cara menjaga kebersihan lingkungan

Fokus utama pada masalah demam berdarah adalah pencegahan. Pembenahan kebersihanlingkungan sekitar kita akan membantu proses pencegahan terjadinya Kejadian Luar BiasaDemam Berdarah Dengue. Dengan lingkungan bersih, maka akan tercipta hidup sehat tanpaadanya penyakit baik DBD maupun penyakit lainnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Wheley, Wong’s.2002.Nursing Infants dan Children. Mosby

 Nadesul, Hendrawan.2007.Cara Mudah Mengalahkan DB.Jakarta: Kompas Soegiyanto,Soegeng.2006.Demam Berdarah Denue.Surabaya:Ailangga University Press. Ngastiyah.1999.Perawatan Anak Sakit.Jakarta: EGC Usnandar dkk.2005. Asuhan Keperawatan Bayi dan anak.Jakarta.salemba Medika .1987.Ilmu Penyakit Dalam.Jakarta:FKUI Soegiyanto, Soegeng.2002.Ilmu Penyakit Anak Diagnosa dan Penatalaksanaan.Jakarta.Salemba Medika NANDA NIC NOC

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s