“ Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Penyakit Morbili (campak)“

BAB I

PENDAHULUAN

1.1   Latar belakang

Campak adalah endemik pada sebagian besar dunia. Campak sangat menular,

sekitar  90% kontak keluarga  yang  rentan mendapat  penyakit.  Campak  jarang

subklinis. Sebelum penggunaan vaksin campak, puncak insiden pada umur 5-10

tahun,  kebanyakan orang dewasa   imun.Sekarang  di  Amerika  Serikat,  campak

terjadi paling sering pada anak umur sekolah yang belum di imunisasi dan pada

remaja dan orang dewasa muda yang telah di  imunisasi . Biasanya penyakit ini

timbul  pada masa anak dan kemudian menyebabkan kekebalan seumur  hidup.

Bayi  yang dilahirkan oleh  ibu yang pernah menderita morbili  akan  mendapat

kekebalan  secara pasif   (melalui  plasenta)  sampai  umur  4-6 bulan dan  setelah

umur   tersebut   kekebalan   akan  mengurang   sehingga   si   bayi   dapat  menderita

morbili. Bila seseorang wanita menderita morbili ketika ia hamil 1 atau 2 bulan,

maka 50% kemungkinan akan mengalami abortus, bila ia menderita morbili pada

trimester I, II, atau III maka ia akan mungkin melahirkan seorang anak dengan

kelainan bawaan atau seorang anak dengan BBLR, atau lahir mati atau anak yang

kemudian meninggal sebelum usia 1 tahun.

Campak adalah penyakit infeksi virus akut, menular yang ditandai dengantiga

stadium, yaitu stadium kataral, stadium erupsi, dan stadium konvalesensi. Nama

lain penyakit ini adalah campak, measles, atau rubeola.

Penularan  terjadi  secara droplet  dan kontak  langsung dengan pasien. Virus

morbili   terdapat   dalam  sekret   nasofaring   dan   darah   selama   stadium  kataral

sampai  24  jam setelah  timbul  bercak di  kulit.  Banyak kesamaan antara  tanda-

tanda biologis campak dan cacar  memberi  kesan kemungkinan bahwa campak

dapat diberantas. Tanda-tanda ini adalah :

➢ ruam khas

➢ tidak ada reservoir binatang

➢ tidak ada vector

➢ kejadian musiman dengan masa bebas penyakit

virus laten tidak dapat ditularkan

➢ satu serotip

➢ vaksin efektif.

Upaya Pencegahan yang di lakukan dalam menangani masalah campak adalah :

1)             Imunisasi  pasif   :  tidak   banyak   dianjurkan   karena   resiko   terjadinya

ensefalitis dan aktivasi tuberkulose

2)      Imunisasi aktif : Vaksin yang diberikan adalah ” Live Attenuated Measles

Vaccine “

1.2 Tujuan

a.       Tujuan Umum

Mengetahui penatalaksanaan kasus anak dengan Morbili

b.    Tujuan khusus

- Memahami proses terjadinya penyakit Morbili

- Memahami penkajian kasus anak dengan Morbili

- Memahami perumusan diagnosa pada penyakit Morbili

- Memahami perumusan intervensi pada penyakit Morbili

- Memahami perumusan implementasi pada penyakit Morbili

- Memahami evaluasi pada penyakit Morbili

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

2.1    Definisi

  • Morbili adalah penyakit virus akut, menular yang ditandai dengan 3 stadium,

yaitu stadium prodormal ( kataral ), stadium erupsi dan stadium konvalisensi, yang

dimanifestasikan dengan demam, konjungtivitis dan bercak koplik ( Ilmu Kesehatann

Anak Edisi 2, th 1991. FKUI ).

  • Morbili adalah penyakit anak menular yang lazim biasanya ditandai dengan

gejala-gejala utama ringan, ruam serupa dengan campak ringan atau demam, scarlet,

pembesaran serta nyeri limpa nadi ( Ilmu Kesehatan Anak vol 2, Nelson, EGC, 2000)

2.2 Etiologi

Penyebabnya adalah virus morbili yang terdapat dalam sekret nasofaring dan

darah sealma masa prodormal sampai 24 jam setelah timbul bercak-bercak. Virus ini

berupa virus RNA yang termasuk famili Paramiksoviridae, genus Morbilivirus.

Cara penularan dengan droplet infeksi.

2.3 Manifestasi klinis

Masa   tunas/inkubasi   penyakit   berlangsung   kurang   lebih   dari   10-20   hari   dan

kemidian timbul gejala-gejala yang dibagi dalam 3 stadium

1. Stadium kataral (prodormal)

Stadium prodormal berlangsung selama 4-5 hari ditandai oleh demam ringa

hingga   sedang,   batuk   kering   ringan,   coryza,   fotofobia   dan   konjungtivitis.

Menjelang akhir stadium kataral  dan 24  jam  sebelum  timbul  enantema,   timbul

bercak koplik yang patognomonik bagi  morbili,   tetapi  sangat   jarang dijumpai.

Bercak koplik berwarna putih kelabu,  sebesar ujung jarum dan dikelilingi  oleh eritema.  Lokalisasinya   dimukosa   bukalis   berhadapandengan  molar   dibawah,

tetapi  dapat  menyebar   tidak  teratur  mengenai   seluruh permukaan pipi. Meski

jarang,  mereka dapat  pula ditemukan pada bagian  tengah bibir  bawah,   langit-

langit dan karankula lakrimalis. Bercak tersebut muncul dan menghilang dengan

cepat dalam waktu 12-18 jam. Kadang-kadang stadium prodormal bersifat berat

karena diiringi  demam  tinggi  mendadak disertai  kejang-kejang dan pneumoni.

Gambaran darah tepi ialah limfositosis dan leukopenia.

2. Stadium erupsi

Coryza dan batuk-batuk bertambah. Timbul enantema / titik merah dipalatum

durum dan palatum mole.  Terjadinya   eritema  yang berbentuk  makula  papula

disertai   dengan   menaiknya   suhu   tubuh.  Eritema   timbul   dibelakang   telinga

dibagian   atas   lateral   tengkuk,   sepanjang   rambut   dan  bagian  belakang   bawah.

Kadang-kadang   terdapat   perdarahan   primer   pada   kulit.  Rasa   gatal,   muka

  1. Terdapat   pembesaran   kelenjar   getah   bening   disudut  mandibula   dan

didaerah leher belakang. Juga terdapat sedikit splenomegali, tidak jarang disertai

diare dan muntah. Variasi  dari  morbili  yang biasa  ini  adalah “Black Measles”

yaitu  morbili   yang  disertai   perdarahan   pada   kulit,  mulut,   hidung   dan   traktus

digestivus.

3. Stadium konvalesensi

Erupsi   berkurang   meninggalkan   bekas   yang   berwarna   lebih   tua

(hiperpigmentasi)   yang  bisa  hilang   sendiri.  Selain   hiperpigmentasi  pada   anak

Indonesia   sering   ditemukan   pula   kulit   yang   bersisik.  Hiperpigmentasi   ini

merupakan   gejala   patognomonik   untuk  morbili.  Pada   penyakit-penyakit   lain

dengan eritema atau eksantema  ruam kulit  menghilang  tanpa hiperpigmentasi.

Suhu menurun sampai menjadi normal kecuali bila ada komplikasi

2.4 Tanda dan gejala

Gejala mulai timbul dalam waktu 7-14 hari setelah terinfeksi, yaitu berupa: – Panas badan – nyeri tenggorokan] – hidung meler ( Coryza ) – batuk ( Cough ) – Bercak Koplik – nyeri otot – mata merah ( conjuctivitis )2-4 hari kemudian muncul bintik putih kecil di mulut bagian dalam (bintik Koplik). Ruam (kemerahan di kulit) yang terasa agak gatal muncul 3-5 hari setelah timbulnya gejala diatas. Ruam ini bisa berbentuk makula (ruam kemerahan yang mendatar) maupun papula (ruam kemerahan yang menonjol). Pada awalnya ruam tampak di wajah, yaitu di depan dan di bawah telinga serta di leher sebelah samping. Dalam waktu 1-2 hari, ruam menyebar ke batang tubuh, lengan dan kaki, sedangkan ruam di wajah mulai memudar.

Pada puncak penyakit, penderita merasa sangat sakit, ruamnya meluas serta suhu tubuhnya mencapai 40° Celsius. 3-5 hari kemudian suhu tubuhnya turun, penderita mulai merasa baik dan ruam yang tersisa segera menghilang.

Demam, kecapaian, pilek, batuk dan mata yang radang dan merah selama beberapa hari diikuti dengan ruam jerawat merah yang mulai pada muka dan merebak ke tubuh dan ada selama 4 hari hingga 7 hari.

2.5 patofisiologi

Droplet Infection (virus masuk)

Berkembang biak dalam RES

Keluar dari RES keluar sirkulasi

Pirogen :

- pengaruhi termostat dalam hipotalamus

Titik setel termostat meningkat

Suhu tubuh meningkat

- pengaruhi nervus vagus  pusat

muntah di medula oblongata.

- muntah

- anorexia

- malaise

Mengendap pada organ-organ yang

secara embriologis berasal dari ektoderm seperti pada :

- Mukosa mulut

infiltrasi sel-sel radang mononuklear pada kelenjar sub mukosa mulut

Koplik`s spot

- Kulit

Ploriferasi sel-sel endotel kalpiler di dalam korium

Terjadi eksudasi serum dan kadang-kadang eritrsit dalam epidermis

Rash/ ruam kulit

Konjunctiva

terjadi reaksi peradangan umum

Konjuctivitis

Fotofobia

- mukosa nasofaring dan broncus

infiltrasi sel-sel sub epitel dan sel raksasa berinti banyak

Reaksi peradangan secara umum

Pembentukan eksudat serosa disertai proliferasi sel monokuler dan sejumlah kecil pori morfonuklear

Coriza/ pilek, cough/ batuk

Sal. Cerna

Hiperplasi jaringan limfoid terutama pada usus buntu  mukosa usus teriritasi  kecepatan sekresi bertambah  pergerakan usus meningkat  diare

 

2.6 Pemeriksaan Diagnostik

○ Pemeriksaan Fisik

○ Pemeriksaan Darah

2.7 Penatalaksanaan 

. ○ Pemberian vitamin A

○ Istirahat baring selama suhu meningkat, pemberian antipiretik

○ Pemberian antibiotik pada anak-anak yang beresiko tinggi

○ Pemberian obat batuk dan sedativum

2.8 Pencegahan / perawatan dirumah

Vaksin campak merupakan bagian dari imunisasi rutin pada anak-anak. Vaksin biasanya diberikan dalam bentuk kombinasi dengan gondongan dan campak Jerman (vaksin MMR/mumps, measles, rubella), disuntikkan pada otot paha atau lengan atas.

Jika hanya mengandung campak, vaksin dibeirkan pada umur 9 bulan. Dalam bentuk MMR, dosis pertama diberikan pada usia 12-15 bulan, dosis kedua diberikan pada usia 4-6 tahun.

selain itu penderita juga harus disarankan untuk istirahat minimal 10 hari dan makan makanan yang bergizi agar kekebalan tubuh meningkat.

1. Imunusasi aktif

Hal ini dapat dicapai dengan menggunakan vaksin campak hidup yang telah dilemahkan. Vaksin hidup yang pertama kali digunakan adalah Strain Edmonston B.   Pelemahan   berikutnya   dari   Strain   Edmonston   B.   Tersbut   membawa perkembangan dan pemakaian Strain Schwartz dan Moraten secara luas. Vaksin tersebut diberikan secara subkutan dan menyebabkan imunitas yang berlangsung lama.Pada   penyelidikan   serulogis   ternyata   bahwa   imunitas   tersebut   mulai mengurang 8-10 tahun setelah vaksinasi. Dianjurkan agar vaksinasi campak rutin tidak dapat  dilakukan sebelum bayi  berusia 15 bulan karena sebelum umur 15 bulan   diperkirakan   anak   tidak   dapat  membentuk   antibodi   secara   baik   karena masih   ada   antibodi   dari   ibu.  Pada   suatu   komunitas   dimana   campak   terdapat secara endemis, imunisasi dapat diberikan ketika bayi berusia 12 bulan.2. Imunusasi pasifImunusasi   pasif   dengan   serum  oarng   dewasa   yang   dikumpulkan,   serum stadium  penyembuhan   yang   dikumpulkan,   globulin   placenta   (gama  globulin plasma)   yang   dikumpulkan   dapat   memberikan   hasil   yang   efektif   untuk pencegahan   atau  melemahkan   campak.  Campak   dapat   dicegah   dengan   serum imunoglobulin dengan dosis 0,25 ml/kg BB secara IM dan diberikan selama 5 hari setelah pemaparan atau sesegera mungkin.

2.9 Komplikasi 

- Otitis media akut- Pneumonia / bronkopneumoni

- Encefalitis

- Bronkiolitis

- Laringitis obstruksi dan laringotrakkhetis

 

2.10 pengobatan

Terdapat indikasi pemberian obat sedatif, antipiretik untuk mengatasi demam

tinggi.  Istirahat   ditempat   tidur   dan   pemasukan   cairan   yang   adekuat.  Mungkin

diperlukan humidikasi ruangan bagi penderita laringitis atau batuk mengganggu dan

lebih baik mempertahanakan suhu ruangan yang hangat.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

ASKEP TEORITIS

3.1.   Pengkajian

Konsep Asuhan Keperawatan Pasien Penderita Morbili

I.Pengkajian

A.Identitas diri :

B.Pemeriksaan Fisik :

1.Mata : terdapat konjungtivitis, fotophobia

2.Kepala : sakit kepala

3.Hidung : Banyak terdapat secret, influenza, rhinitis/koriza,

perdarahan hidung (pada stad eripsi).

4.Mulut & bibir : Mukosa bibir kering, stomatitis, batuk, mulut terasa

pahit.

5.Kulit : Permukaan kulit (kering ), turgor kulit, rasa gatal,

ruam makuler  pada  leher,  muka,   lengan dan kaki   (pada stad.  Konvalensi),

evitema, panas (demam).

6.Pernafasan : Pola nafas, RR, batuk, sesak nafas, wheezing, renchi,sputum

7.Tumbang : BB, TB, BB Lahir, Tumbuh kembang R/ imunisasi.

8.Pola Defekasi : BAK, BAB, Diare

9.Status Nutrisi : intake – output makanan, nafsu makanan

C.Keadaan Umum : Kesadaran, TTV

3.2  Diagnosa keperawatan

1.Gangguan rasa nyaman : peningkatan suhu tubuh b.d proses inflamasi

2.Resiko kurang volume cairan b.d kehilangan sekunder terhadap demam

3.Gangguan  kebutuhan   nutrisi   kurang   dari   kebutuhan   tubuh   :   asupan

makanan yang kurang b.d. anorexia

4.Gangguan pola nafas b.d inflamasi saluran nafas

5.Intoleransi aktivitas b.d. kelemahan umum

6.Gangguan persepsi sensori b.d radang konjungtiva

7.Gangguan integritas kulit b.d rash pada seluruh tubuh

8.Gangguan istirahat tidur b.d. rash pada seluruh tubuh, deskuamasi rasa gatal

3.3 Intervensi

• Diagnosa Keperawatan

Gangguan rasa nyaman : peningkatan suhu tubuh bd proses inflamasi

Data Subjektif : -Pasien mengeluh pusing

-Pasien mengeluh panas

Data Objektif :

. Suhu tubuh meningkat

· Pasien tampak gelisah

· Mukosa mulut kering

· Keringat berlebihan

· Frekuensi pernafasan meningkat

· Kejang · Takikardi

· Kulit terasa panas

• Tujuan

Suhu tubuh normal dalam jangka waktu….

• Kriteria Hasil

-Suhu tubuh 36,6 – 37,4 0C

- Bibir lembab

- Nadi normal

- Kulit tidak terasa panas

- Tidak ada gangguan neurologis ( kejang )

- Aktivitas sisi kemampuan

• Intervensi Keperawatan

–   Identifikasi  penyebab  atau  factor  yang dapat  menimbulkan  peningkatan   suhu

tubuh: dehidrasi, infeksi, efek obat, hipertiroid.

– Observasi fungsi  neurologis :  status mental,  reaksi terhadap stimulasi dan reaksi

pupil.

– Observasi cairan masuk dan keluar, hitung balance cairan

– Observasi tanda kejang mendadak

– Beri cairan sesuai kebutuhan bila tidak kontraindikasi

– Berikan kompres air hangat

– Berikan   cairan   dan   karbohidrat   yang   cukup   untuk   meningkatkan

hipermetabolisme akibat peningkatan suhu.

– Anjurkan pasien  untuk mengurangi   aktivitas  yang berlebihan  bila   suhu naik  /

bedrest total.

– Anjurkan   dan  bantu  pasien   menggunakan   pakaian   yang   mudah   menyerap

keringat.

– Kolaborasi :

– Pemberian anti piretik

– Pemberian anti biotic

– Pemeriksaan penunjang

 

• Diagnosa Keperawatan

Resiko kekurangan volume cairan tubuh B. D kehilangan sekunder terhadap demam.

Data Subjektif :

· Pasien mengeluh haus

· Pasien mengeluh lemas

· Pasien mengeluh mencret ….x/hr

· Pasien mengeluh muntah …x/hr

Data Objektif :

· TD…mmttg, N..x/mnt, 0S.. C, RR…x/mnt

· Turgor kulit jelek

· Perubahan produksi urine…cc/ 24 jam

· Penurunan pengisian vena ( capillary refill )

· Volume dan tekanan nadi menurun

· Denyut nadi meningkat

· Demam

· Kulit kering

· Bibir kering

· Mata cekung

· Akral dingin

• Tujuan

Tidak terjadi kekurangan volume cairan tubuh dalam jangka waktu ….

• Kriteria Hasil

-Turgor baik

- Produksi urine …cc/jam <0,5 – 1 cc/kg BB/jam

- Kulit lembab

- TTV dalam batas normal

- Mukosa mulut lembab

- Cairan masuk dan keluar seimbang

- Tidak pusing pada perubahan posisi – Tidak haus

- Hb, Ht, dbn

• Intervensi Keperawatan

-Observasi   penyebab   kekurangan  cairan   :  muntah,   diare,   kesulitan   menelan,

kekurangan darah aktif, diuretic, depresi, kelelahan

- Observasi TNSR…

- Observasi tanda – tanda dehidrasi

- Observasi keadaan turgon kulit, kelembaban, membran mukosa

-  Monitor pemasukan dan pengeluaran cairan bila kekurangan cairan terjadi  secara

mendadak,  ukur produksi  urine setiap  jam,  berat   jenis dan observasi  warna urine.

Catat dan ukur jumlah dan jenis cairan masuk dan keluar per….

-  Perhatikan  :  cairan yang masuk,  kecepatan  tetesan untuk mencegah edema paru,

dispneu, bila pasien terpasang infus

- Timbang BB setiap hari

- Pertahankan bedrest selama fase akut

-  Ajarkan tentang masukan cairan yang adekuat, tanda serta cara mengatasi kurang

cairan

- Kolaborasi :

- Pemberian cairan parenteral sesuai indikasi

- Pemberian obat sesuai indikasi

-Observasi kadar elektronik, Hb,Ht

• Diagnosa Keperawatan

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh : Asupan makanan yang kurang b.d

anorexia.

Data Subjektif :

· Pasien mengatakan mual

· Pasien mengatakan tidak nafsu makan

Data Objektif :

· Bising usus….x/mnt

· Mukosa mulut kering

· Vomitus ….cc

· Porsi makan : …..porsi

· Hb …., Albumin…..

· Konjungtiva dan selaput lendir pucat

· Terdapat bercak – bercak merah pada mukosa mulut

• Tujuan

Pasien dapat memperbaiki status gizi (nutrisi ) dalam jangka waktu

• Kriteria Hasil

-BB meningkat

- Mual berkurang / hilang

- Tidak ada muntah

- Pasien menghabiskan makan 1 porsi

- Nafsu makan meningkat

- Pasien menyebutkan manfaat nutrisi

- Pasien mengungkapkan kesediaan mematuhi diit

- Tidak ada tanda – tanda malnutrisi

- Nilai Hb, Protein dalam batas normal

• Intervensi Keperawatan

-Kaji pola makan pasien

- Observasi mual dan muntah

- Jelaskan pentingnya nutrisi yang adekuat untuk kesembuhan

- Kaji kemampuan untuk mengunyah dan menelan

- Auskultasi bising usus, catat adanya penurunan atau hilangnya bising usus.

- Beri posisi semi fowler / fowler saat makan

- Identifikasi factor pencetus mual , muntah , diare, nyeri abdomen

- Kaji makanan yang disukai dan tidak disukai sesuai diit

- Sajikan makanan dalam keadaan hangat dan menarik

- Bantu pasien untuk makan , catat jumlah makanan yang masuk

- Hindari makanan dan minuman yang merangsang

- Lakukan perawatan mulut sebelum dan sesudah makan. – Kolaborasi :

-Penatalaksanaan diit yang sesuai (dengan ahli gizi)

- Pemberian nutrisi parenteral

-Pemberian anti emetik

- Pemberian multivitamin, cara pemberian makanan / tambahan.

• Diagnosa Keperawatan

Gangguan pola nafas b.d inflamasi saluran nafas

Subjektif :

-Dispnea

-Napas pendek

Objektif :

-Perubahan gerakan dada

-Mengambil posisi tiga titik

-Penurunan tekanan inspirasi/ekspirasi

-Penurunan ventilasi semenit

-Penurunan kapasitas vital

-Napas dalam (dewasa VT 500 mL pada saat istirahat, bayi 6-8

mL/k)

-Peningkatan diameter anterior-posterior.

-Napas cuping hidung

-Kecepatan respirasi (usia dewasa 14 tahun atau lebih <11-24[kali per menit], bayi 25-60, usia 1-4 <20-30, usia 5-14 <1525).

-Rasio waktu

-Penggunaan otot-otot bantu untuk bernapas

• Tujuan

Pasien menunjukkan Status Respirasi: Ventilasi: Pergerakan udara ke dalam dan ke

luar dari paru-paru yang normal.

• Kriteria hasil

-Menunjukkan pola pernapasan efektif,  dibuktikan dengan status pernapasan yang

tidak berbahaya: ventulasi dan status tanda vital.

-    Menunjukkan   status   pernapasan:  Ventilasi   tidak   terganggu,   diotandai   dengan

indikator  gangguan sebagai  berikut  (dengan ketentuan 1-5L ekstrem,  kuat,  sedang,

ringan , tidak).

- Kedalaman inspirasi dan kemudahan bernapas.

- Ekspansi dada simetris.

- Tidak ada penggunaan itot bantu.

- Bunyi napas tambahan tidak ada.

- Napas pendek tidak ada.

- Menunjukkan pernapasan optimal pada saat terpasnag ventilator mekanis;

- Mempunyai kecepatan dan irama respirasi dalam batas normal;

- Mempunyai fungsi paru vatas normal untuk pasien;

- Membutuhkan bantuan pernapasan sata dibutukan;

- Mampu menggambarkan rencana untuk perawatan di rumah.

• Intervensi Keperawatan

-Pantau adanya pucat dan sianosis

- Pantau efek obat pada status respirasi.

- Tentukan lokasi dan luasnya krepitasi di tulang dada.

- Kaji kebutuhan insersi jalan napas.

-  Observasi   dan   dokumentasikan   ekspansi   dada   bilateral   pada   pasien   dengan

ventilator.

- Pemantauan Pernapasan :

-  Pantau kecepatan,   irama,  kedalaman dan  suaha  respirasi;  perhatikan pergerakan

dada,  amati  kesimetrisan,  penggunaan otot-otot  bantu,   serta  retraksi  otot   suprakla

vikular dan interkostal; pantau respirasi yang berbunyi, seperti mendengar;

- Pantau pola pernapasa: bradip nea; takipnea; hiperventilasi; pernapasan Kussmaul;

pernapasan Cheyne-Stokes; dan apneastik. Biot dan pola ataksik;

- Perhatikan lokasi trakea;

-  Auskultasi  bunyi  napas,  perhatikan   area  penurunan  /tidak   adanya  ventilasi  dan

adanya bunyi napas tambahan ;

-  Pantau peningkatan kegelisahan,  ansietasm dan  tersengal-sengal;  catat  perubahan

pada SaO2, SvO2, CO2 akhir-tidak, dan nilai gas darah arteri (GDA), dengan tepat.

-  Informasikan   kepada   pasien   dan   keluarga   tentang   teknik   relaksasi   untuk

meningkatkan pola pernapasan. Spesifikasikan teknik.

- Ajarkan cara batuk secara efektif.

- Informasikan kepada pasien/ keluarga bahwa tidak boleh merokok di ruangan

-  Instruksikan kepada pasien/keluarga  bahwa mereka harus  memberitahu perawat

pada saat terjadi ketidakefektifan pola pernapasan.

-  Rujuk kepada ahli terapi pernapasan untuk memastikan keadaan fungsi ventilator

mekanis.

- Laporkan perubahan sensori, bunyi napas, dan pernapasan, nilai GDA, sputum, dan

seterusnya, sesuai dengan kebutuhan atau protokol.

- Berikan tindakan (misalnya, bronkodilator) sesuai dengan priogram atau protokol.

-  Berikan  tindakan  nebulizer  ultrasonik dan udara  pelembap   atau oksigen  sesuai

dengan program protokol institusi.

- Berikan obat nyeri untuk pengoptimalkan pola pernapasan. Spesifikkan jadwal.

-  Hubungkan dan dokumentasikan semua data pengkajian (misalnya, sensori, bunyi

naoas, pola pernapasan, nilai Gda, sputum, dan efek obat pada pasien).

- Bantu pasien untuk menggunakan spirometer insentif, sesuai dengan kebutuhan.

- Yakinkan kembali pasien selama periode distres pernapasan.

- Anjurkan napas dalam melalui abdomen selama periode distres pernapasan.

- Lakukan pengisapan sesuai dengan kebutuhan untuk membersihkan sekresi.

- Minta pasien untuk berpindah, batuk dan napas dalam setiap

-  Informasikan kepada pasien sebelum memulai prosedur yang dimaksudkan, untuk

menurunkan ansietas dan meningkatkan perasaan kontrol.

-  Pertahankan   oksigen   aliran   rendah   kanula   nasal,  masker,   sungkup,   atau   tenda.

Spesifikkan kecepatan aliran.- Posisikan pasien untuk mengoptimalkan pernapasan. Spefikkan posisi.

- Sinkronisasikan antara pola pernapasan klien dan kecepatan ventilasi.

• Diagnosa Keperawatan

Intoleransi aktivitas b.d. kelemahan umum

Subjektif :

-ketidaknyamanan atau dispnea yang membutuhkan pengeragan tenaga.

- Melaporkan keletihan atau kelemahan secara verbal.

Objektif

-Denyut jantung atau tekanan darah tidak normal sebagai respons terhadap aktivitas.

- Perubahan EKG selama aktivitas yang menunjukkan aritmia atau iskemia.

- Faktor yang Berhubungan

- Tirah baring/imobilitas

- Nyeri kronis

- Kelemahan umum

- Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen

- Gaya hidup menoton

- Tujuan/ Kriteria Evaluasi

- Contoh Penggunaan Bahasa NOC

-  Mentoleransi aktivitas yang biasa dilakukan dan ditunjukkan dengan Daya tahan,

penghematan energi, dan perawatan diri: aktivitas kehidupan sehari-hari (dan AKSI).

-  Menunjukkan   Penghematan   energi,   ditandai   dengan   indikator   sebagai   berikut

(dengan ketentuan 1-5: tidak sama sekali, ringan, sedang, berat , atau sangat berat ).

- Menyadari keterbatasan energi

- Menyeimbangkan aktivitas dan istirahat.

- Tingkat daya tahan adekuat untuk beraktivitas.

Contoh lain

-Pasien akan :

-  Mengidentifikasi   aktivitas   dan/atau   situasi   yang  menimbulkan   kecemasan   yang

berkonsetribusi oada intoleransi aktivitas;-  Berpartisipasi   dalam  aktivitas   fisik   yang   dibuthhkan   dengan   peningkatan   yang

memadai pada denwyut jantung, frekuensi respirasi, dan tekanan darah dan pola yang

dipantu dalam batas normal;

-  Mengungkapkan   secara   verbal   pema  haman  tentang   kebiutuhan   oksigen,

pengobatan,   dan   /   atau   peralatan   yang   dapat  meningkatkan   toleransi   terhadap

aktivitas;

-  Menampilkan   aktivitas   kehidupan   sehari-hari   (aks0   dengan   beberapa   bantuan

(mislanya, eliminasi dengan bantuan ambulasi untuk ke kamar mandi);

-  Menanmpilakn   pengelolaan   pemeliharaan   di   rumah   dengan   beberapa   bantuan

(misalnya, membutuhkan bantuan untuk kebersihan stiap minggu)

• Intervensi Prioritas NIC

-Terapi Aktivitas: saran tentang dan bantuan dalama aktivitas fisik, kognitif,  sosial

dan   spritual   yang   spesifiik   untuk  meningkatkan   rentang,   frekuensiu   atau   durasi

aktivitas individu (atau kelompok). Pengelolaan Energi: Pengurangan penggunmaan

energi untuk merawat atau mencegah kelelahan dan mengoptiomalkan fungsi.

• Aktivitas Keperawatan

Pengakajian

-Kaji respons emosi, sosial, dan spritual terhadap aktivitas.

- Evaluasi motivasi dan keinginan pasien untuk meningkatkan aktivitas.

- Pengelolaan Energi (NIC):

- Tentukan penyebab keletihan (misalnya, karena perawatan, nyeri, dan pengobatan);

- Pantau respons kardiorespi ratori terhadap aktivitas (mislanya, takikardia, distrimia

lain, diaforesis , pucat, tekanan hemadinamik, dan frekuensi respirasi);

-  Pantau respons oksigen (misalnya,  nadi,  irama,   jantung,  dan frekuensji  respirasi)

terhadap   aktivitas   perawatan   diri;   pantau   asupan   nutrisi   untuk   memastikan

keadekuatan sumber-sumber energi;

- Pantau / dokumentasikan pola istirajat pasien dan lamanya waktu tidur.

- Pendidikan untuk Pasien / keluarga

- Instruksikan kepada pasien/keluarga dalam:- Penggunaan peralatan, seperti oksigen, selama aktivitas;

- Penggunaan teknik relaksasi (misalnya, distraksi, visualisasi) selama aktivitas.

- Pengelolaan Energi (NIC):

-  Ajarkan   kepada   pasien   dan   orang   yang   penting   bagi   pasien   tentang   teknik

perawatan diri  yang  akan  meminimalkan konsumsi  oksigen  (misalnya,  memantau

diri dan teknik berjalan untuk melakukan AKS);

• Aktivitas Kolaboratif

-Berikan pengobatan nyeri sebelum aktivita s.

-  Kolaborasikan   dengan   ahli   terapi   okupasi,   fisik   dan/atau   rekreasi   untuk

merencanakan dan memantau program aktivitas, sesuai dengan kebutuhan.

-  Rujuk   pada  pelayanan  kesehatan   rumah  untuk  mendapatkan  pelayanan   tentang

bantuan perawatan rumah, sesuai dengan kebutuhan.

-  Rujuk pada ahli gizi unmtuk merencanakan makanan untuk meningkatkan asupan

makanan yang tinggi energi.

• Aktivitas lain

-Hindari menjadwalkan aktivitas perawatyan selama periode istirahat.

-  Bantu pasien untuk mengibah posisi secara berkala, bersandar, dudul, berdiri, dan

ambulasi yang dapat ditoleransi.

- Rencanakan aktivitas dengan pasien/keluarga yang meningkatkan kemandirian dan

daya tahan. Misalnya :

- Anjurkan periode alternatif untuk istirahat dan aktivitas;

- Simpan objek yang sering digunakan pada tempat yang mudah dijangkau;

-  Buat   tujuan   yang   sederhana,   realistis,   dan   dapat   dicapai   oleh   pasien   yang

meningkatkan kemandirian dan harga diri.

-  Rencana keperawatan untuk bayi/anak untuk meminimalkan kebutuhan oksigen

bagi tubuh:

-  Antisipasi  kenbutuhan makanan,   cairan,  kenyamanan,  digendong,  dan  stimulasi

untuk mencegah tangisan yang tidak perlu:-  Hindari lingkungan yang mempunyai konsentrasi oksigen rendah (mislanya, pada

daerah dataran tinggi, pesawat terbang yang bertekanan tidak normal);

- Minimalkan ansietas dan stres;

- Cegah hipertemia dan hipotermia;

- Cegah infeksi;

- Berikan instirahat yang adekuat.

- Pengelolaan Energi (NIC):

-  Bantu pasien untuk mengidentifikasi  pilihan aktivitas;   rencanakan aktivitas pada

periode pasien mempunyai energi paling banyak;

-  Bantu   dengan   aktivitas   fisik   teratur   (misalnya,   ambulasi,   transfer,   posisi,   dan

perawatan personal) sesuai kebutuhan;

- Batasi rangsangan lingkungan (seperti cahaya dan kebisingan) untuk memfasilitasi

relaksasi;

-  Bantu   pasien   untuk   memantau   diri   dengan   membuat   dan   menggunakan

dokumentasi tentang CATATAN asupan kalori dan energi, sesuai kebutuhan.

3.4  Implementasi Keperawatan

Pelaksanaan keperawatan merupakan kegiatan yang dilakukan sesuaidengan rencana yang telah ditetapkan. Selama pelaksanaan kegiatandapat bersifat mandiri dan kolaboratif. Selama melaksanakan kegiatanperlu diawasi dan dimonitor kemajuan kesehatan klien ( Santosa. NI,1989;162 ).

3.5 Evaluasi Keperawatan

Tahap evaluasi dalam proses keperawatan menyangkut pengumpulandata subyektif dan obyektif yang akan menunjukkan apakah tujuanpelayanan keperawatan sudah dicapai atau belum. Bila perlu langkahevaluasi ini merupakan langkah awal dari identifikasi dan analisamasalah selanjutnya ( Santosa.NI, 1989;162).

 

 

 

 

 

BAB IV

PENUTUP

4.1  Kesimpulan

Campak ialah penyakit infeksi virus akut, menular, secara epidemiologi penyebab utama kematian terbesar pada anak. Menurut etiologinya campak disebabkanoleh virus RNA dari famili paramixoviridae, genus Morbillivirus, yang ditularkan secaradroplet. Gejala klinis campak terdiri dari 3 stadium, yaitu stadium kataral, stadium erupsidan stadium konvalesensi. Campak dapat dicegah dengan melakukan imunisasi secaraaktif, pasif dan isolasi penderita. Insidens Rate Campak dari data rutin selama tahun1992 – 1998 di Indonesia cenderung menurun untuk semua kelompok umur. Penurunan paling tajam pada kelompok umur

4.2  Saran

Dengan disusunnya makalah ini mengharapkan kepada semua pembaca agar dapat menelaah dan memahami apa yang telah terulis dalam makalah ini sehingga sedikit banyak bisa menambah pengetahuan pembaca. Disamping itu kami juga mengharapkansaran dan kritik dari para pembaca sehinga kami bisa berorientasi lebih baik padamakalah kami selanjutnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Maldonado, Y. 2002.

Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta

. EGC.Staf pengajar Ilmu Kesehatan Anak. 1985.

Buku Kuliah 2 Ilmu KEsehatan Anak FKUI

.Jakarta:  Ngastiyah. 1997.

Perawatan Anak Sakit

. Jakarta: EGC.Anonim, 2008.

Measles

.http://dermnetnz.org/viral/morbilli.html. 9 Maret 2011 Depkes, R.I. 2004.

Campak di Indonesia

.http://www.penyakitmenular.info.9 Maret 2011 Imunisasi, vaksinasi. 2008.http://www.sidenreng.com 9 Maret 2011 Ika. 2009.

Ilmu Kesehatan Anak

.http://www.wordpress.com 9 Maret 2011 Infokes.2011.http://berlli.blogspot.com/2009/11/campak-measles-rubeola_04.html. 9 Maret2011

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s